Aku ingin malam ini tidur dengan harapan ketika esok pagi aku bangun, aku sudah bisa melupakanmu. Menghempaskan asa ku untuk hidup bersama mu. Melarutkan anganku yang terus menari-nari indah tentangmu. Ketika kusadar kau kini kian jauh dan semakin menjauh. Ada apakah gerangan denganmu?
Ketahuilah dan cernalah kedalam otakmu yang encer itu.
Aku ingin berlayar pada hamparan nan nyata bukan sekedar khayalan.
Aku ingin berlabuh pada biduk cinta sejati bukan sebatas ilusi.
Aku ingin menatap asa pada cahaya senja memberi arti bukan sekedar janji-janji.
Aku ingin bersandar pada kokohnya batu cinta yang tertanam kebajikan bukan sebentuk kesombongan yang terperi.
Aku ingin berlayar bersamamu menuju hidup yang lebih indah dan berseri, mengepakkan saya-sayap patah ku, menghempaskan badai dalam gemuruh nya jiwa ku, menghancurkan kesombongan-kesombongan yang terlilit dan meracuni otak ku, memadamkan api dendam membara yang menjadikanku abu kelabu.
Aku ingin berlayar denganmu sebagaimana aku adalah wanita suci yang haus akan gairah semu.
Aku ingin berlayar denganmu setidaknya sebagai wanita yang terpilih sebagai pelampiasan nuranimu yang syah di mata Tuhan.
Aku ingin berlayar denganmu dan kini kubertanya, adakah kiranya kau sudi melarungkan bahtera bahagia? Merajut benang-benang emas mengatasnamakan cinta? Menganyam benih-benih kasih yang terurai derita? Menghapus airmata saat terluka? Memelukku dalam raga nan hangat kesetiaan? Membawaku melayang terbang ke angkasa dengan bercinta yang lebih suci dan bermakna kasih Tuhan?
Bukan harta semata yang kupinta tapi cinta.
Bukan cinta saja yang kudamba tapi janji mu dihadapan Sang Illahi.
Bukan janji semata yang kunanti tapi bukti ketika kau setia berada disisi.
Bukan sekedar kau setia menemani tapi sudah aku kau bingkaikan dihatimu dengan kejujuran dan ketulusan?
Itu yang ingin kutanyakan....
Pekalongan,240109//06.00'
Bingkai Kehidupan
Dari kehidupan keluarga sederhana disebuah
Tak urung waktu berputar dengan bertambahnya usia, yang ada dalam benaknya hanyalah sebuah kehidupan penuh dengan sejuta impiannya demi keutuhan cinta bagi keluarga bersama.
Dan kini...apakah ia sanggup mewujudkannya?
Minggu, 25 Januari 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
4 komentar:
kaki
saat kiri melangkah
kanan rela mengalah
tak pernah bertubrukan
saling jegal, apalagi dulu-duluan
aku hanya butuh "ada"
tak peduli apa dan bagaimana
"ada" ku terdefinisi
karena kau akui
sebenarnya kau pun tahu,
manusia hanya ingin
diakui keberadaannya
tak perlu dibesarkan
kecilkan
sanjung
sesukamu,
tapi, aku ada. akuilah itu.
Indah sekali...!
Bingkai kejujuran dan ketulusan...!
sobat aku datang
lelah memahami
indah sekali puisi mena. salam kenal dari aku
Poskan Komentar