Bingkai Kehidupan

Dari kehidupan keluarga sederhana disebuah kota kecil Kota Batik, lahirlah seorang bayi perempuan dengan kondisi yang tak begitu sempurna tapi apalah arti sebuah kesempurnaan bila Sang Ibu dan jabang bayinya selamat dan sehat walafiat.

Tak urung waktu berputar dengan bertambahnya usia, yang ada dalam benaknya hanyalah sebuah kehidupan penuh dengan sejuta impiannya demi keutuhan cinta bagi keluarga bersama.

Dan kini...apakah ia sanggup mewujudkannya?

Rabu, 16 Februari 2011

Mencintai Kehilangan....



Aku tahu ini resiko ku karena berani mencintaimu. Barangkali, aku terlalu lancang dan memang lancang. Aku yang rindu. Aku yang pilu. Aku yang sepi. Aku yang menanti. Aku yang takut. Aku yang berlari. Aku yang munafik. Aku yang lancang mencintaimu. Aku serapah. Aku gelisah. Engkau punya segalanya yang kuinginkan.

Entah, untuk keberapa kalinya cinta ini kandas ditengah lautan sebelum ia melandai pada daratan kepastian. Ragu pun datang menjadi badai yang mengkoyak-koyakkan pendirianku atas cinta ini. Cinta yang belum sempat menjumpai cawan keabadian. Kau diam, aku bimbang. Kau pergi, aku berlari. Berlari menjauh hari, seakan mengejar kegagalan demi kegagalan yang kerap menemani. Engkau malah mengajari untuk bertahan.

Mencintaimu adalah awal keindahan mimpiku. Kuhapus dahaga yang kerontang menjalari jiwa dengan seteguk senyummu. Senyum kemenangan atas kebodohanku yang terlanjur bertekuk lutut dihadapanmu. Selaksa permaesuri yang pasrah ketika sang raja menelanjangi hati, sandiwara pun menari-nari diatas ranjang kepuasan dunia. Aku hilang, aku melayang. Engkau menghadiahi kenikmatan. Aku terpulas pada dekapan malam.

Entah, untuk keberapa kalinya cinta ini memekar dihamparan taman-taman surga sebelum ia menaburi duri-duri dari jangkar tangkainya. Kita lebih asyik bermain-main dalam kepingan-kepingan hati kita yang sempat terjatuh dan pecah. Kita bahagia, kita tertawa. Kita menangis, kita merintih. Kita pun diam dan tetap berjalan. Mencari pemberhentian dari sebuah kehidupan. Adakah kematian mempertemukan kembali kita menjadi abadi?

Barangkali, ini adalah hukuman dari sebuah kehidupan. Mencintai kehilangan. Mencari kehilangan. Merasa kehilangan. Dan menjumpai kehilangan. Dan aku tahu tak ada yang abadi, kecuali setelah kita kembali menjadi apa awal kita dulu. Kelak kita akan kembali menjadi titik kita lahir. Dari lahir kita mati dan dari mati kita akan kembali lahir.

Dan aku tahu, sakit ini adalah awal bahagiaku nanti. Karena cintaNYA, aku mencintaimu. Karena jiwaNYA, aku dan kamu ada. Karena kematianNYA, kita satu menjadi cinta. Maka kini, kurela melepaskanmu dari jangkauan hatiku.



Salam…


Tepian Kota Mimpi, 040211//08.45’

0 komentar: