Bingkai Kehidupan

Dari kehidupan keluarga sederhana disebuah kota kecil Kota Batik, lahirlah seorang bayi perempuan dengan kondisi yang tak begitu sempurna tapi apalah arti sebuah kesempurnaan bila Sang Ibu dan jabang bayinya selamat dan sehat walafiat.

Tak urung waktu berputar dengan bertambahnya usia, yang ada dalam benaknya hanyalah sebuah kehidupan penuh dengan sejuta impiannya demi keutuhan cinta bagi keluarga bersama.

Dan kini...apakah ia sanggup mewujudkannya?

Senin, 04 April 2011

Untukmu Untukku......



Hidup ini seperti kita mengayuh roda
Terus berjalan berjalan dan berjalan
Jika kita tak ingin tertinggal

Untuk yang pernah ada
         biarlah tetap ada

Untuk yang sudah berlalu
biarlah menjadi biru

Untuk sebuah Cinta
berilah kasih sayang

Untuk sebuah luka
tunjukkan arti senyuman

Untukmu
Untukku
tiada lagi ragu,
menunggu

Untukmu
Untukku
sebuah kenangan
berbingkai dan bertangkai

Untukmu
Untukku
kehidupan terus berjalan
lantas kita...?? kubiarkan angin memutar haluan

Berpeluk untuk berpisah,
memang sebaiknya!!



Salam Larassati!!


Tepian Kota Mimpi, 040411//00.00'

NB : foto jepretan pribadi

Kamis, 31 Maret 2011

Rinai Pagi 4....


Kupungguti serpihan sajak sajak pagi ini

Pada kebisuan embun embun membasah daun
Pada arakan awan yang mendung
Pada kehangatan cahaya berkabut yang membangunkan lamunan


Pada keindahan jiwa yang bersandiwara
Pada kenangan CInta yang mengikis masa
Pada kerikil kerikil yang membeku
         dan menyanyat pilu


Pada keabadian, tak terlupa nama kita kurajut diam diam
Sekalipun, kita telah sampai pada titik kesudahan
Harapan pun, tak ada luka terasakan


Lingkar waktu adalah sebuah jawaban
Diantara sketsa sketsa kehidupan,
         tetap saja kesunyian bukanlah lambang kematian.




Salam....


Tepian Kota Mimpi, 250311//06.15'




**foto koleksi pribadi

Senin, 28 Maret 2011

Istana Pasir....



To Mena Larasati


Kau mengajakku bermain ke pantai

mengajariku melihat tiap butir yang terserak:
pasir kata

"kita akan membangun istana," katamu



sambil menyimak deru ombak

bernyanyi bersama camar

kita bangun miniatur karang

juga puri berperapian di puncak gunung

istana kita berkilau ditempa temaram senja

biar halimun juga malam mengepungnya

mata kita tak terhalang melihatnya

menjulang

ombak boleh menjilat dan menelan

tak peduli angin menghapus tiap inci jejaknya

tapi kita telah membingkainya 

di sebuah ruang:
hening





NB "Sajak dari seorang sahabat bernama Boemisayekti". Terimakasih untuk persahabatan ini.




Salam.....


Tepian Kota Mimpi, 280311//22.30'